Kamis, 09 April 2026

Tradisi Pohamba-hamba di Wakatobi

 Tradisi Pohamba-hamba merupakan salah satu kearifan lokal yang kuat di Kabupaten Wakatobi, khususnya pada masyarakat Kaledupa. Tradisi ini adalah sistem gotong royong atau saling membantu dalam membuka lahan pertanian dan merawat tanaman secara bersama-sama.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai tradisi pohamba-hamba:
  • Makna Gotong Royong: Pohamba-hamba memiliki arti saling membahu atau saling membantu secara suka rela, di mana tidak ada istilah kerugian tenaga meskipun pekerjaan dilakukan secara bersama-sama.
  • Proses Pelaksanaan: Tradisi ini biasanya dimulai dengan musyawarah untuk menyepakati waktu kerja, seringkali dilakukan pada pembukaan lahan baru. Kelompok yang turun tangan bisa mencapai 10-11 orang atau lebih, tergantung luas lahan.
  • Penguatan Kekerabatan: Selain bertujuan untuk efisiensi pekerjaan, pohamba-hamba mempererat hubungan kekerabatan antar sesama petani.
  • Teknik Pertanian: Dalam membuka lahan, masyarakat masih menggunakan peralatan sederhana seperti parang, cangkul, dan celurit.
Kearifan Lokal Lain di Wakatobi
Selain pohamba-hamba, masyarakat Wakatobi, khususnya suku Bajo, memiliki ikatan yang kuat dengan laut. Tradisi ini terlihat dari kehidupan sehari-hari, termasuk cara mereka memandikan bayi menggunakan air laut pada ritual adat. Wakatobi juga dikenal dengan pengelolaan hutan Kaindea yang diatur melalui kearifan lokal

Pengertian Mparimpari (Keraifan masyarakat pesisir Wakatobi/Kopata)

 Sistem Parimpari di Wakatobi adalah salah satu bentuk kearifan lokal berbasis masyarakat yang terbukti efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan laut, khususnya ekosistem pesisir.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai kearifan lokal Parimpari dan penerapannya:
1. Apa itu Parimpari?
  • Definisi: Parimpari adalah tradisi lokal masyarakat Wakatobi (khususnya di Pulau Kapota) untuk mengawasi, memelihara, dan memanfaatkan hewan laut tertentu yang dilindungi atau diatur pemanfaatannya.
  • Fokus utama: Saat ini, Parimpari sering dikhususkan untuk konservasi gurita.
  • Tujuan: Mencegah penangkapan ikan berlebihan (overfishing) dan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.
2. Mekanisme dan Manfaat
  • Peningkatan Hasil: Berdasarkan studi, sebelum adanya tradisi Parimpari, hasil tangkapan nelayan rata-rata gurita berukuran kecil (sekitar 1 kg). Setelah penerapan Parimpari, hasil tangkapan meningkat menjadi sekitar 2 kg karena gurita diberi kesempatan tumbuh dewasa.
  • Sistem Buka-Tutup: Komunitas nelayan (seperti Komanangi di Wangi-wangi) membuka lokasi pembesaran gurita Parimpari secara berkala, memastikan adanya siklus pemulihan populasi.
  • Kelembagaan Adat: Parimpari didukung oleh sistem kelembagaan adat yang disebut Parika, yang menentukan waktu dan tempat penangkapan ikan.
3. Kearifan Lokal Wakatobi Lainnya
Selain Parimpari, masyarakat Wakatobi memiliki beberapa kearifan lokal lain dalam mengelola laut:
  • Tuba Dikatutuang: Larangan penangkapan ikan dalam jumlah besar di area tertentu dan larangan alat tangkap tidak ramah lingkungan.
  • Meti-meti: Teknik menangkap ikan tradisional saat air surut.
  • Pengkramatan Tempat: Adanya situs keramat (seperti karang tapotong dan lua angalo) yang berfungsi sebagai zona perlindungan laut.
4. Dampak Parimpari
  • Ekonomi & Ekologi: Parimpari menjembatani kebutuhan nelayan akan hasil tangkapan dengan kebutuhan konservasi laut agar tetap lestari.
  • Dukungan Lokal: Penerapan ini semakin diperkuat dengan kolaborasi bersama lembaga swadaya (seperti YKAN) untuk menyusun regulasi desa (Perkades) yang berbasis adat.
Parimpari merupakan contoh nyata bahwa pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas yang diwariskan turun-temurun mampu memberikan solusi berkelanjutan bagi kelestarian laut.

Mengamati peta kuno Jalur Rempah

 

Sumber : https://metafor.id/kolom/esai/makassar-dalam-arus-niaga-internasional/



Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pertama kalinya menggelar pelayaran Muhibah Jalur Rempah. Dalam pelayaran Muhibah Jalur Rempah menggunakan KRI Dewaruci yang membawa 149 pelajar pilihan dari 34 provinsi untuk napak tilas ke enam titik jalur perdagangan.

Sumber Artikel berjudul " Kemendikbudristek Pertama Kali Gelar Muhibah Jalur Rempah, Ini 6 Titik yang Akan Dilalui KRI Dewaruci ", 






Senin, 30 Maret 2026

Foto Nelayan Wakatobi sedang bergotong-royong

 



Masyarakat Wakatobi adalah pewaris ilmu navigasi rasi bintang


Gambar Ilustrasi

Benar, masyarakat Wakatobi, khususnya suku Bajo (Sea Gypsies) yang mendiami wilayah pesisir Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, dikenal sebagai pewaris keahlian navigasi tradisional yang diwariskan oleh leluhur mereka.

Berikut adalah beberapa aspek terkait warisan navigasi tersebut:
  • Navigasi Berbasis Alam: Leluhur masyarakat Wakatobi mengandalkan rasi bintang, arus laut, arah angin, serta perilaku biota laut untuk menentukan arah di lautan lepas tanpa alat modern.
  • Suku Bajo (Sea Gypsies): Suku Bajo adalah komunitas utama yang memiliki kedekatan budaya dan spiritual dengan laut, sering disebut sebagai "penjaga laut" yang memiliki kemampuan menyelam dan menavigasi perairan secara tradisional.
  • Kearifan Lokal: Pengetahuan ini merupakan bagian dari kearifan lokal dalam mengelola sumber daya laut secara bijak, termasuk pemahaman tentang musim dan pola arus laut untuk menangkap ikan.
  • Ancaman Perubahan: Meskipun menjadi warisan yang kuat, pengetahuan tradisional ini kini diuji oleh perubahan pola cuaca dan meningkatnya kesulitan nelayan dalam menemukan ikan, yang memaksa mereka untuk beradaptasi.
Keahlian ini menjadikan masyarakat Wakatobi salah satu komunitas maritim yang paling tangguh di Indonesia.

Kamis, 12 Maret 2026

Sombo, Tradisi masyarakat Wakatobi

 Sombo (atau Sombo'a) adalah tradisi pingitan tradisional masyarakat Wakatobi, khususnya bagi gadis remaja yang mulai beranjak dewasa. Bagian dari rangkaian upacara adat Karia'a ini mengharuskan gadis tersebut berdiam diri di dalam rumah  selama 7-10 hari, mengenakan kunyit, dan menjalani prosesi pembersihan diri sebelum akhirnya diperbolehkan keluar.

Berikut adalah detail mengenai tradisi Sombo di Wakatobi:

  • Tujuan dan Makna: Sombo merupakan simbol bahwa anak perempuan telah beranjak dewasa dan tumbuh di lingkungan yang baik, sekaligus persiapan menuju kedewasaan dan kesiapan untuk dipinang.
  • Prosesi Pingitan (Sombo'a): Gadis-gadis yang dipingit diwajibkan berdiam diri di rumah khusus  selama 7-10 hari.
  • Larangan dan Perawatan: Selama masa pingitan, mereka tidak diperbolehkan keluar rumah dan rutin menggunakan kunyit ke seluruh tubuh.
  • Ritual Tambahan: Selama di dalam, mereka menjalani ritual hepatirangga (mewarnai kuku dengan daun pacar).
  • Akhir Masa Pingitan: Tradisi ini ditutup dengan ritual hekire'a (pemotongan sedikit rambut) dan mandi menggunakan air doa yang dipimpin ketua adat.
  • Kaitan dengan Karia'a: Sombo merupakan bagian integral dari perayaan Karia'a (upacara sunatan/kedewasaan) yang biasanya diadakan setelah Idul Fitri atau Idul Adha.
Tradisi ini menekankan tingginya nilai perempuan dalam masyarakat Wakatobi dan pentingnya menjaga kehormatan serta keindahan gadis muda.

Tradisi Pohamba-hamba di Wakatobi

  Tradisi  Pohamba-hamba   merupakan salah satu kearifan lokal yang kuat di Kabupaten Wakatobi, khususnya pada masyarakat Kaledupa. Tradisi ...